Produk yang Anda beli di kesurabaya.com adalah hasil produksi UMKM di bawah binaan dinas terkait Pemkot Surabaya. Kesurabaya.com menawarkan harga terbaik dari produk UMKM terbaik. Standard dan mutu produk di kesurabaya.com terjamin karena selalu dalam pengawasan berkala. Anda pun dapat turut memasarkan produk Anda di kesurabaya.com dengan menghubungi admin kami di 085216028060 (WA only). Kesurabaya.com membuka kerja sama dengan seluruh komunitas pecinta Surabaya.
Beranda » Artikel Terbaru » Mbah Karimah, Saksi Sejarah Toleransi Masyarakat Surabaya di Era Majapahit

Mbah Karimah, Saksi Sejarah Toleransi Masyarakat Surabaya di Era Majapahit

Diposting pada 26 December 2019 oleh admin | Dilihat: 172 kali

Wisata atas kota Surabaya: Sobo nDolly, Kampung UMKM Kreatif Putat Jaya dan Ubet Kembang Kuning

YAYASAN MASJID RAHMAT

JL. KEMBANG KUNING NO. 79-81

TILP. 69415

S U R A B A Y A

Riwayat Singkat Mbah Karimah

Dalam awal abad ke-15 di Surabaya bagian selatan masih hutan belantara, seperti Wonokromo, Wonosari, Wonokitri (wonohutan). Orang yang mulai membabat alas bernama Wiroseroyoberumah di hutan Kembang Kuning, yang tiap-tiap pagi bekerja masuk hutan keluar hutan, dan dia ini menganut agama Hindu.

Tiap-tiap pagi dia lewat di Kembang Kuning, selalu terdengar orang seperti berbicara, tetapi tidak terlihat orangnya, siapa dan di mana orang bicara tersebut. Pada suatu hari, sengaja Pak Wiroseroyo mencari suara itu bersama anaknya perempuan bernama Kariman. Ternyata orang yang kedengaran bicara itu, seorang pemuda ganteng, menghadap ke barat dengan menjunjung tangannya, ditegurnya berkali-kali tetapi tidak menjawab, rupanya dia sedang bertapa.

Pak Wiroseroyo berniat akan membuatkan rumah untuk orang tersebut tanpa sepengetahuannya, di belakang dia tafakkur tidak bergerak itu. Setelah mulai menggali pondasi, ternyata orang itu mulai menoleh dan bergerak dan mengenalkan diri dengan nama Rahmat.

Tingkah laku Rahmat itu simpatik, menarik dan dia memberitahukan menganut Agama Islam, yang betul-betul baru bagi Pak Wiroseroyo yang masih beragama Hindu itu. Lama kelamaan Pak Wiroseroyo menganut agama Islam dan niatnya dulu akan membuatkan rumah dilanjutkan tetapi bukannya rumah, melainkan Masjid.

Tiap pagi Pak Wiroseroyo dan si Rahmat bekerja keras membuat MAsjid ini, dan tiap-tiap hari keduanya dikirim makan minum oleh si Karimah, dan akhirnya Rahmat diambil menantu oleh Pak Wiroseroyo dinikahkan dengan puterinya Karimah itu. MAsjid yang dibuat oleh R. Rahmat dan Pak Wiroseroyo itu terletak di Kembang Kuning dengan atap alang-alang, yang termasuk masjid tertua di Jawa, yang pada zaman dahulu dikenal si pembuatnya dengan nama langgar tiban yaitu masjid Rahmat petilasan Sunan Ampel yang kemudian diganti dengan nama Masjid Rahmat, untuk mengabadikan nama pembangunnya R. Rahmat.

Masjid Rahmat ini pernah menjadi pusat kegiatan Dakwah, bahkan semua Wali-wali sembilan orang di Jawa yaitu Wali Songo membicarakan Islam di Masjid Rahmat ini.

Setelah R. Rahmat dewasa, beliau hijrah ke utara membuat Masjid baru dan pesantrennya kemudian wafat serta dimakamkan di rumahnya yang sampai sekarang terkenal dengan nama Sunan Ampel.

Pak Wiroseroyo sejak punya puteri Karimah dipanggil dengan panggilan Pak Karimah, tetapi setelah beliau sepuh (tua) dan puteri serta menantunya pindah ke Ampel, beliau dipanggil dengan panggilan Mbah Karimah.

Masjid Rahmat itu sekarang terletak di Jl. Chairil Anwar 27 Surabaya, makam Mbah Karimah sekarang ini ada di Kembang Kuning Gang Kramat Surabaya + 300 meter ke arah Selatan dari Masjid Rahmat.

  • Masjid Rahmat yang dipugar ini diresmikan oleh Menteri Agama RI tanggal 22 Juni 1967.
  • Haul Mbah KArimah ini tiap Sabtu malam Ahad pada akhir bulan Jumadil Awal. Jadi Mbah Karimah itu ialah Pak Wiroseroyo, santri pertama dan mertua R. Rahmat Sunan Ampel Surabaya yang makamnya terletak Gang Kramat Kembang Kuning Surabaya.
  • Bersama beliau sebagai santri Sunan Ampel; adalah:
    1. Ki Wirorejo, seorang Demang di Tuban, Bapak dari Bupati Wilotikto – Mbah dari Sunan Kalijogo.
    2. Ki Abi Huroiroh yang makamnya berada di Kapasan.-

Surabaya, 9 Maret 1981

Disusun oleh H. Moch. Taufik

bersama A. Hamid Hasbulloh

 

Dokumentasi:

Bagikan informasi tentang Mbah Karimah, Saksi Sejarah Toleransi Masyarakat Surabaya di Era Majapahit kepada teman atau kerabat Anda.

Mbah Karimah, Saksi Sejarah Toleransi Masyarakat Surabaya di Era Majapahit | Surabaya Hari Ini

Belum ada komentar untuk Mbah Karimah, Saksi Sejarah Toleransi Masyarakat Surabaya di Era Majapahit

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
OFF 20%
QUICK ORDER
Sambal Khas Surabaya, Herdi Rasa Sambel Ijo

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Sambal khas surabaya Rp 20.000 Rp 25.000
Ready Stock / SMBLHRD003
Rp 20.000 Rp 25.000
Ready Stock / SMBLHRD003
OFF 20%
QUICK ORDER
Sambal Khas Surabaya, Herdi Rasa Ebi

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

sambal khas surabaya Rp 20.000 Rp 25.000
Ready Stock / SMBLHRD002
Rp 20.000 Rp 25.000
Ready Stock / SMBLHRD002
OFF 20%
QUICK ORDER
Oleh Oleh Khas Surabaya Kekinian, Sambal Herdi Rasa Ebi

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

oleh oleh khas surabaya kekinian 2 Rp 20.000 Rp 25.000
Ready Stock / SMBLHRD001
Rp 20.000 Rp 25.000
Ready Stock / SMBLHRD001
SIDEBAR