Kesurabaya.com - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut kondisi geopolitik global yang memanas justru membawa dampak positif bagi petani sawit dan komoditas perkebunan Indonesia. Salah satunya terlihat dari lonjakan harga crude palm oil (CPO) yang mendorong peningkatan pendapatan petani.
"Konflik, geopolitik memanas itu berkah buat Indonesia untuk pangan. Petani pesta. Kenapa? Harga CPO naik. Harga kakao bagus, harga kelapa naik. Itu yang dirasakan di lapangan," kata Amran di Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Minggu (5/4/2026).
Ia menggambarkan kenaikan harga komoditas tersebut dirasakan langsung oleh petani di berbagai daerah. "Kelapa naik, dulunya Rp600 jadi Rp6.000. Itu 1.000 persen naiknya di Maluku Utara. Itu kebahagiaan petani. Saya ke lapangan, petani bilang 'Pak Menteri enak ya kalau krisis'," ujarnya.
Amran menyinggung adanya peningkatan kemampuan ekonomi petani yang terlihat dari aktivitas sosial keagamaan. Ia menyebut jumlah petani yang mampu berangkat ke Tanah Suci (haji atau umrah) meningkat hingga dua kali lipat, yang umumnya membutuhkan biaya besar. Hal ini dianggap sebagai indikator meningkatnya kesejahteraan petani.
Amran menjelaskan kenaikan harga ini membuat petani semakin aktif meningkatkan produksi. Perawatan tanaman ditingkatkan karena harga jual sedang tinggi, sehingga memberi ruang keuntungan yang lebih besar. "Ini tanam sawit, naik produksi. Pupuknya diperbaiki, dijaga. (Para pekebun) lupa pulang dari kebun karena harga lagi bagus. Petani diberi ruang untung untuk berproduksi," kata Amran.
Ia juga menyoroti bahwa situasi geopolitik tidak hanya berdampak pada harga komoditas, tetapi juga mempercepat kebijakan hilirisasi energi di dalam negeri, termasuk pengembangan bahan bakar berbasis etanol. "Berkah kedua, hilirisasi dipercepat, etanol dipercepat. Kalau ada tekanan, ada hikmah di balik itu," ujarnya. Amran menambahkan saat ini Indonesia juga telah mulai memproduksi kendaraan berbahan bakar etanol yang bahkan sudah diekspor ke Brasil, dengan bahan baku dari komoditas dalam negeri seperti ubi dan jagung.
Secara sederhana, kondisi geopolitik yang memanas membuat harga minyak dan energi global naik, sehingga harga komoditas pengganti atau terkait energi seperti CPO ikut terdongkrak. Kenaikan harga tersebut pada akhirnya dirasakan langsung oleh petani karena hasil panen mereka dihargai lebih tinggi, sehingga sebagian petani mengalami peningkatan pendapatan di tengah tekanan global.