• Sabtu, 18 April 2026

Harga Energi Melonjak Imbas Perang Timur Tengah, Indonesia Menakar Posisi di Tengah Huru-hara Pupuk Dunia

.
Luthfi Nur Zaman, Kesurabaya.com
- Rabu, 1 April 2026 | 15:48 WIB
Ilustrasi Foto Sebuah Drone Menyemprotkan Pupuk Kimia di Sebuah Lahan Pertanian Modern  (LNZ)
Ilustrasi Foto Sebuah Drone Menyemprotkan Pupuk Kimia di Sebuah Lahan Pertanian Modern (LNZ)

Kesurabaya.com - Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang telah berlangsung lebih dari sebulan berdampak luas pada pasar keuangan global, terutama pada harga komoditas energi.

Dalam sebulan terakhir, harga minyak mentah jenis brent melesat nyaris 36 persen, sementara harga gas alam di pasar TTF (Belanda) melejit 23,59 persen, memicu kekhawatiran terhadap industri pupuk dunia yang sangat bergantung pada pasokan energi.

Berdasarkan data terkini, harga minyak mentah jenis brent tercatat melonjak hampir 36 persen dalam satu bulan terakhir, sementara minyak jenis light sweet melonjak hampir 43 persen. Di sektor gas alam, harga di pasar TTF (Belanda) melejit 23,59 persen, dan di Inggris harga gas meroket 21,68 persen dalam periode yang sama. Lonjakan ini menjadi yang tertinggi sejak krisis energi beberapa tahun terakhir.

Salah satu penyebab utama kenaikan harga energi adalah penutupan praktis jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat eskalasi konflik. Selat yang menjadi jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia ke pasar global ini kini menjadi wilayah konflik, yang tidak jarang memakan korban kapal kargo sipil. Blokade de facto ini mengganggu rantai pasok energi global dan memicu spekulasi harga.

Industri pupuk dunia sangat bergantung pada pasokan energi, terutama gas alam yang menjadi bahan baku utama produksi pupuk urea dan amonia. Kenaikan harga gas alam secara signifikan berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi pupuk, yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga jual dan ketersediaan pupuk di pasar domestik. Indonesia sebagai salah satu produsen pupuk terbesar di kawasan perlu mencermati situasi ini.

Pemerintah Indonesia melalui PT Pupuk Indonesia (Persero) dan anak perusahaannya terus memantau perkembangan harga energi global dan dampaknya terhadap rantai pasok pupuk dalam negeri. Strategi mitigasi seperti optimalisasi pasokan gas domestik dan efisiensi produksi menjadi fokus utama untuk menjaga stabilitas ketersediaan pupuk bagi petani.

Dengan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, Indonesia perlu terus mengkaji posisi dan kesiapan dalam menghadapi "huru-hara" pupuk dunia, guna memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga di tengah krisis global.

Editor: Luthfi Nur Zaman

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

X