edukasi

Guru Besar UGM: Integrasikan Restorasi Hutan dan MBG untuk Ketahanan Nutrien Bangsa

Rabu, 1 April 2026 | 23:07 WIB
Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Priyono Suryanto (LNZ)

Kesurabaya.com - Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Priyono Suryanto menilai bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh hanya dibaca sebagai belanja negara semata, melainkan harus dilihat sebagai instrumen transformasi sistem yang dapat memperkuat fondasi produksi nutrien bangsa melalui integrasi dengan restorasi hutan.

Dalam tulisannya di laman Detik.com, Priyono mengajak publik untuk membaca spektrum mandat MBG secara lebih luas.

Priyono menilai bahwa perdebatan publik selama ini sering berhenti pada satu hal: anggaran. Program MBG dikritik keras karena kerap dipersempit sebagai beban fiskal, sementara potensi strategisnya belum dibaca melampaui fungsi distribusi makan bergizi semata.

"Di sinilah muncul defisit paradigma. Kebijakan berskala besar seperti MBG seharusnya tidak hanya dibaca sebagai belanja negara, tetapi sebagai instrumen transformasi sistem. Tanpa imajinasi strategis, risiko tampak dominan. Dengan perspektif sistemik, kebijakan justru dapat menjadi daya ungkit perubahan," tulisnya.

Priyono menjelaskan bahwa restorasi hutan dalam kerangka ini bukan sekadar agenda tanam-menanam, tetapi investasi jangka panjang bagi reproduksi nutrien nasional. Integrasi restorasi hutan dan MBG membuka peluang untuk menghadirkan paradigma baru di mana hutan menjadi daya ungkit strategis sumber nutrien yang menopang sistem gizi nasional.

"Selama ini kebijakan gizi dipisahkan dari kebijakan lanskap. Hutan dipandang sebagai ruang konservasi yang jauh dari dapur sekolah. Sebaliknya, dapur sekolah bergantung pada rantai pasok panjang yang rentan terhadap gejolak pasar," ujarnya.

Priyono menyoroti bagaimana masyarakat tradisional mengelola lanskap melalui sistem perhutanan agroforestri yang memandang hutan sebagai ruang kehidupan sekaligus ruang pangan. Dalam satu kesatuan ekologis, lanskap hutan menghadirkan keragaman sumber pangan berupa buah-buahan, umbi, rempah, kacang-kacangan, sayuran liar, jamur, hingga ikan rawa yang membentuk sistem pangan kaya nutrien yang hidup dan berkelanjutan. "Keragaman ini menegaskan hutan sebagai sistem pangan yang produktif dan resilien," tulisnya.

Guru Besar UGM itu mengingatkan bahwa prevalensi stunting Indonesia masih berada di kisaran 20 persen menurut survei nasional terbaru. Pada saat yang sama, ketergantungan terhadap impor pangan strategis masih tinggi, dengan impor gandum Indonesia bahkan telah melampaui 10 juta ton per tahun.

"Kondisi ini mencerminkan kerentanan struktural sistem pangan nasional terhadap dinamika global," tegasnya.

Dalam kerangka ini, MBG dapat dibaca sebagai momentum untuk menata ulang fondasi produksi nutrien nasional.

Priyono mengusulkan arah baru restorasi hutan melalui kehutanan berkenusantaraan tinggi dengan konsep mahataman peragroforestrian Indonesia. Pendekatan ini bertumpu pada literasi warisan ekologis Nusantara yang telah terbukti mampu mengelola hutan dengan meminimalkan deforestasi dan degradasi.

"Kesadaran terhadap pangan sehat dan berkelanjutan terus meningkat. Dalam konteks tersebut, pangan fungsional mulai dipandang sebagai arah baru sistem pangan masa depan," ujarnya.

Priyono menyimpulkan bahwa restorasi hutan dan program MBG tidak berada pada dua jalur kebijakan yang terpisah. Keduanya berpotensi membentuk haluan kebijakan terpadu yang memulihkan ekologi sekaligus memperkuat fondasi nutrien bangsa melalui keragaman pangan berbasis lanskap hutan dengan perhutanan agroforestri.

"Di titik ini, simpul strategis antara restorasi hutan dan MBG menjadi jelas. Restorasi hutan memulihkan fondasi ekologis produksi nutrien, sementara MBG memperkuat distribusi nutrien bagi generasi masa depan," pungkasnya.

Halaman:

Tags

Terkini