• Sabtu, 18 April 2026

Peneliti BRIN Ungkap Ubi Kayu Berpotensi Jadi Sumber Pangan Alternatif Masa Depan, Produktivitas Masih Jauh dari Optimal

.
Luthfi Nur Zaman, Kesurabaya.com
- Rabu, 1 April 2026 | 15:07 WIB
Foto Ilustrasi Situasi Saat Panen di Kebun Singkong  (LNZ)
Foto Ilustrasi Situasi Saat Panen di Kebun Singkong (LNZ)

Kesurabaya.com - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Robert Asnawi mengungkapkan bahwa ubi kayu memiliki potensi besar sebagai sumber pangan alternatif sekaligus bahan baku industri di masa depan.

Dalam orasi ilmiahnya, Robert menyoroti bahwa produktivitas ubi kayu nasional saat ini masih jauh dari optimal, dengan rata-rata hasil panen hanya 26 ton per hektar, padahal potensi produksi dapat mencapai 50 hingga 60 ton per hektar.

Robert Asnawi menjelaskan bahwa lebih dari 80 persen hasil ubi kayu di Indonesia masih dijual dalam bentuk segar, sehingga nilai tambah yang diperoleh petani sangat terbatas. Harga di tingkat petani pun cenderung rendah dan fluktuatif, sehingga kesejahteraan petani sulit meningkat secara signifikan. Dalam periode 2020 hingga 2024, peningkatan produksi nasional cenderung stagnan, sementara impor produk turunan ubi kayu masih terus berlangsung setiap tahun.

Dari sisi kelembagaan, kemitraan antara petani dan industri pengolahan belum berkembang secara luas. Posisi tawar petani masih lemah, sementara data produksi belum terintegrasi dengan baik. Kebijakan yang ada pun dinilai belum sepenuhnya mendukung pengembangan komoditas ini secara menyeluruh.

Di tengah tren penurunan konsumsi beras, kebutuhan akan pangan alternatif semakin meningkat. Kondisi ini membuka peluang besar bagi ubi kayu untuk berperan sebagai substitusi pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Selain sebagai bahan pangan langsung, ubi kayu juga dapat diolah menjadi berbagai produk turunan seperti tepung, pati, hingga bahan baku industri makanan dan energi.

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, diperlukan transformasi agribisnis yang menyeluruh. Peningkatan produktivitas menjadi salah satu fokus utama, terutama melalui penerapan inovasi teknologi budidaya dan penggunaan sistem tanam yang lebih efisien. Penerapan sistem tumpang sari dengan menanam komoditas lain seperti jagung atau kedelai di lahan yang sama juga dinilai dapat memberikan manfaat tambahan bagi petani, sekaligus mengurangi risiko kerugian.

Penguatan kemitraan antara petani dan industri menjadi aspek penting lainnya. Dalam model kemitraan inklusif, industri tidak hanya berperan sebagai pembeli, tetapi juga sebagai mitra yang menyediakan bibit, sarana produksi, hingga pendampingan teknis. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga riset, dan perguruan tinggi, juga diperlukan untuk memperkuat ekosistem agribisnis ubi kayu.

Dengan pendekatan yang terintegrasi, ubi kayu berpeluang menjadi komoditas strategis nasional yang tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Editor: Luthfi Nur Zaman

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

X