• Sabtu, 18 April 2026

Guru Besar UNDANA: MBG Bukan Sekadar Program Makan, Tapi Mesin Ekonomi yang Kita Abaikan

.
Luthfi Nur Zaman, Kesurabaya.com
- Sabtu, 4 April 2026 | 20:17 WIB
Foto Ilustrasi: Roy Nendissa Guru Besar Ekonomi Pertanian UNDANA (LNZ)
Foto Ilustrasi: Roy Nendissa Guru Besar Ekonomi Pertanian UNDANA (LNZ)

Kesurabaya.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama ini lebih banyak disorot dari sisi persoalan insidental seperti makanan basi, distribusi terlambat, hingga tata kelola yang belum rapi.

Namun, Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Roy Nendissa menilai bahwa publik telah melihat program ini dari sudut yang keliru. Menurutnya, MBG seharusnya dibaca bukan hanya sebagai program sosial, tetapi sebagai mesin ekonomi besar yang mampu menggerakkan ekonomi lokal, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam tulisannya di laman Sindonews, Roy menjelaskan bahwa setiap program makan sekolah menciptakan permintaan besar untuk beras, sayur, telur, ayam, ikan, buah, bumbu, jasa memasak, distribusi, pengemasan, hingga tenaga kerja. Negara sedang membangun sebuah pasar institusional yang sangat kuat.

"Bagi NTT, hal ini memiliki arti yang jauh lebih strategis. Selama ini, salah satu persoalan mendasar ekonomi daerah adalah lemahnya keterhubungan antara produksi masyarakat dengan pasar yang pasti. Petani menanam, tetapi tidak tahu ke mana menjual. Peternak berproduksi, tetapi tidak memiliki kontrak pembelian yang jelas. Koperasi ada, tetapi sering tidak punya fungsi ekonomi yang kuat," tulisnya.

Roy menilai bahwa MBG terlalu sering dibaca sebagai beban anggaran, bukan sebagai peluang ekonomi. "Seolah-olah tugas pemerintah selesai ketika makanan sampai ke tangan siswa. Padahal, di balik makanan itu terdapat rantai ekonomi yang panjang. Ada petani yang bisa menanam lebih pasti. Ada peternak yang bisa berproduksi lebih berani. Ada koperasi yang bisa hidup. Ada UMKM yang bisa berkembang. Ada jasa logistik yang bisa tumbuh. Dan yang terpenting, ada uang negara yang seharusnya bisa berputar di NTT, bukan keluar tanpa jejak," ujarnya.

Dalam konteks NTT yang masih menghadapi tantangan serius dalam kemiskinan, pengangguran, produktivitas pertanian, distribusi pangan, dan keterhubungan antarwilayah, program sebesar MBG seharusnya tidak diperlakukan sekadar sebagai program konsumsi.

"Harus dijadikan alat intervensi ekonomi yang sengaja diarahkan untuk memperkuat masyarakat lokal. Kalau kebutuhan MBG di NTT dipenuhi dari luar daerah, maka yang terjadi adalah kebocoran manfaat ekonomi," tegasnya.

Roy mengajak publik untuk menggeser cara pandang terhadap MBG dari sekadar program makan menjadi instrumen strategis untuk menggerakkan ekonomi daerah. "Pertanyaan yang jauh lebih mendasar justru jarang diajukan. Apakah MBG hanya sekadar program makan, atau sebenarnya sebuah mesin ekonomi besar yang selama ini kita abaikan?" pungkasnya.

Editor: Luthfi Nur Zaman

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X