• Sabtu, 18 April 2026

Sri Lanka Gelontorkan Subsidi Rp5,4 Triliun untuk Hadapi Krisis Energi Akibat Perang Timur Tengah

.
Luthfi Nur Zaman, Kesurabaya.com
- Rabu, 8 April 2026 | 05:45 WIB
Ilustrasi Gambar Negara Sri Lanka Gelontorkan Subsidi Senilai Rp5,4 Triliun untuk Hadapi Krisis Energi Akibat Perang Timur Tengah (LNZ)
Ilustrasi Gambar Negara Sri Lanka Gelontorkan Subsidi Senilai Rp5,4 Triliun untuk Hadapi Krisis Energi Akibat Perang Timur Tengah (LNZ)

Kesurabaya.com - Sri Lanka mengumumkan pemberian paket bantuan senilai 320 juta dolar AS atau sekitar Rp5,4 triliun pada Selasa (7/4/2026) untuk petani, nelayan, dan rumah tangga berpenghasilan rendah yang paling terdampak oleh lonjakan biaya energi akibat perang di Timur Tengah. Presiden Anura Kumara Dissanayake menyatakan bahwa paket subsidi ini menjadi bantuan negara terbesar yang pernah dilakukan.

"Paket bantuan total bernilai 100 miliar rupee (Rp5,4 triliun) selama tiga bulan," kata Dissanayake dilansir AFP, Selasa (7/4/2026). Kebijakan ini bertujuan untuk membantu kelompok yang paling rentan, dengan hibah tunai yang akan dibayarkan langsung ke rekening ribuan nelayan dan petani padi dan teh. Masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan (sekitar 25 persen dari populasi 22 juta jiwa) juga akan mendapatkan tambahan 25 dolar AS (sekitar Rp427.000) bulan ini, ditambah subsidi untuk tagihan listrik.

Berdasarkan skema terbaru, nelayan yang menggunakan perahu kecil akan mendapatkan subsidi bahan bakar hingga sekitar 300 dolar AS (sekitar Rp5 juta) per bulan. Operator perahu yang lebih besar akan mendapatkan sekitar 483 dolar AS (sekitar Rp8,2 juta) per bulan selama tiga bulan. Sementara bagi para petani, pemerintah akan menanggung sekitar 30 persen biaya pupuk urea, dan negara juga akan menanggung sebagian biaya pembangkitan listrik hingga 15 miliar rupee (sekitar Rp819 miliar).

Dissanayake mengatakan kebijakan ini diambil demi menghindari terulangnya krisis tahun 2022, saat Sri Lanka mengalami inflasi dengan rekor mencapai 70 persen setelah pemerintah mencetak uang untuk mendanai subsidi. Sri Lanka masih dalam program penyelamatan Dana Moneter Internasional (IMF) sejak awal 2023 ketika negara tersebut mendapatkan pinjaman 2,9 miliar dolar AS (sekitar Rp49,5 triliun) selama empat tahun.

Dengan subsidi terbesar dalam sejarah ini, Sri Lanka berupaya melindungi warganya dari dampak krisis energi global akibat konflik Timur Tengah, sekaligus mencegah terulangnya krisis ekonomi yang pernah melumpuhkan negara tersebut pada 2022.

Editor: Luthfi Nur Zaman

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

X