regional

Tak Punya Bandara dan Pelabuhan, Minyak Bojonegoro Dialirkan Lewat Pipa 72 Km ke Pelabuhan Tuban

Jumat, 10 April 2026 | 05:28 WIB
Proyek Banyu Urip Infill Clastic yang Dioperasikan oleh Exxon Mobile Cepu Limited di Lapangan Banyu Urip, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur (LNZ)

Kesurabaya.com - Kabupaten Bojonegoro, yang dikenal sebagai salah satu penghasil minyak dan gas terbesar di Indonesia, masih menghadapi tantangan besar dalam hal infrastruktur transportasi.

Tanpa bandara besar maupun pelabuhan laut strategis, minyak dari Lapangan Banyu Urip dan lapangan migas lainnya di Blok Cepu harus dialirkan melalui jaringan pipa sepanjang 72 kilometer ke pelabuhan di Tuban sebelum diekspor atau didistribusikan ke daerah lain.

Lapangan Banyu Urip di Kecamatan Gayam menyumbang sekitar 25 persen produksi minyak nasional, dengan puncak produksi mencapai 165.000 barel per hari dan pernah menyentuh 235.000 BOPD. Selain Banyu Urip, terdapat Lapangan Kedung Keris, Sukowati, serta rencana gas di Jambaran-Tiung Biru. Secara keseluruhan, cadangan pasti di Blok Cepu diperkirakan mencapai sekitar satu miliar barel minyak.

Karena tidak ada pelabuhan lokal, kilang minyak di Bojonegoro menggunakan sistem pipa (pipelines) untuk mengalirkan minyak ke Tuban, lalu dimuat ke kapal FSO atau kapal tanker. Total panjang pipa sekitar 72 kilometer dari lapangan migas ke pantai atau titik pemuatan utama.

Proyek pengembangan Infill Clastic & Carbonate di Lapangan Banyu Urip sedang berjalan. Sejak 2024 hingga 2025, sedang dibor 7 sumur baru dengan target menambah cadangan sebanyak 42,9 juta barel minyak. Total investasi proyek mencapai sekitar USD 203,5 juta (setara Rp3,25 triliun). Menteri ESDM menargetkan kapasitas produksi meningkat menjadi 150.000 BOPD pada tahun 2026.

Minyak dan gas dari Bojonegoro menjadi sumber pendapatan daerah melalui Dana Bagi Hasil (DBH) Migas. Hingga April-Mei 2025, Bojonegoro telah menerima lebih dari Rp613 miliar. Dalam enam tahun terakhir (2019-2024), akumulasi DBH Migas mencapai Rp12,4 triliun, yang menyumbang sekitar 40-60 persen dari APBD Kabupaten.

Meskipun produksi minyak sangat besar, ketiadaan pelabuhan laut dan bandara udara besar menjadi kendala logistik. Pemerintah daerah dan pusat memprioritaskan pengembangan fasilitas penunjang seperti penguatan sistem pipa, diversifikasi moda transportasi, serta percepatan pembukaan lapangan baru untuk mendukung target produksi nasional.

Tags

Terkini