• Sabtu, 18 April 2026

Dinas Pertanian Jatim Siapkan Tiga Strategi Hadapi Kemarau Panjang Akibat Godzila El Nino

.
Luthfi Nur Zaman, Kesurabaya.com
- Senin, 30 Maret 2026 | 21:43 WIB
Ilustrasi Foto: Jawa Timur Siaga Hadapi Kemarau Panjang Akibat Godzila El Nino (LNZ)
Ilustrasi Foto: Jawa Timur Siaga Hadapi Kemarau Panjang Akibat Godzila El Nino (LNZ)

Kesurabaya.com - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Jawa Timur menyiapkan tiga langkah strategis untuk menghadapi fenomena Godzila El Nino yang diprakirakan terjadi pada April hingga Oktober 2026.

Kepala DPKP Jatim Heru Suseno menyatakan bahwa kemarau panjang yang dipicu fenomena ini berpotensi berdampak pada sektor pertanian dan ketahanan pangan, sehingga diperlukan langkah antisipasi.

Heru memaparkan tiga langkah strategis yang disiapkan:

Pertama, menanam benih tahan kekeringan dengan mendistribusikan benih varietas unggul yang memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca ekstrem.

Kedua, mengaktifkan kembali pompa-pompa yang dibangun Pemprov Jatim tahun lalu serta menambah titik pompa baru di wilayah kritis.

Ketiga, perbaikan irigasi dengan percepatan renovasi jaringan irigasi yang rusak agar distribusi air lebih efisien dan tepat sasaran.

“Pompa-pompa harus siap sedia. Daerah yang tadah hujan memang berat, tapi kalau ada sumber air terdekat, kita pasang pompa agar produksi pangan tidak terganggu,” kata Heru ketika dikonfirmasi pada Senin (30/3/2026).

Heru menyebut sejumlah wilayah pertanian di Jatim perlu mendapatkan perhatian khusus, terutama daerah yang bergantung pada pengairan lahan seperti Bojonegoro, Jember, hingga Lamongan.

“Daerah dengan ketergantungan tinggi pada air hujan seperti Bojonegoro, Jember, dan Lamongan. Ketiga daerah itu masuk radar pemantauan serius karena memiliki titik-titik lahan tadah hujan yang luas dengan sumber air minimum,” ujarnya.

Meski sektor pertanian menjadi perhatian serius saat musim kemarau, Heru mengklaim tren produksi padi di Jatim menunjukkan grafik positif pada awal tahun. Saat ini sejumlah wilayah mulai memasuki masa panen meski belum mencapai puncaknya. Luas tambah tanam per harinya juga terus meningkat.

Heru mengatakan pada Februari lalu, panen mencapai 5.000 hektare, kemudian memasuki bulan Maret luasnya mencapai 9.000 hektare. Hasil produktivitas rata-rata panen mencapai 6 ton per hektare, sehingga potensi hasil panen harian diproyeksi mencapai 54.000 ton.

“Angka ini diprediksi terus meroket hingga April dan Mei mendatang. Puncaknya nanti bisa tembus 120.000 ton saat panen raya,” kata Heru.

Diberitakan sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan sejumlah wilayah di Jatim mulai menghadapi kekeringan lebih awal seperti di Kabupaten Tuban. Kondisi kekeringan tersebut diprediksi bakal meningkat pada Mei hingga mencapai puncak pada Agustus 2026.

Khofifah menegaskan bahwa fenomena kekeringan menjadi perhatian serius sebab Jatim merupakan lumbung pangan nasional. “Menyiapkan sumur-sumur dalam untuk irigasi sawah menjadi penting agar indeks pertanaman tidak turun, karena ketahanan pangan adalah kebutuhan nasional,” ujar Khofifah dalam keterangannya, Sabtu (28/3/2026).

Halaman:

Editor: Luthfi Nur Zaman

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

X